JUJUR DAN TULUS

Mazmur 25:11-22

Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.
(Mzm. 25:21)

Agustinus, seorang teolog dan bapa gereja, dalam khotbahnya berkata, “Dirimu yang sekarang pasti selalu tidak menyenangkanmu, jika kamu ingin menjadi apa yang bukan dirimu.” Artinya, orang yang tidak bisa menerima dirinya sendiri tidak akan bahagia. Lantas, bagaimana ia bisa menerima orang lain, jika dirinya sendiri tidak diterima?

“Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku,” harapan dan refleksi pemazmur di hadapan Tuhan. Hal ini pemazmur ungkapkan ketika hidupnya berhadapan dengan kesulitan. Ia mencoba untuk mengoreksi diri, sebab dalam keterbatasannya mungkin saja ia telah berlaku tidak taat kepada Allah sehingga kesulitan itu ia alami. Pemazmur yakin, Allah Sang Kasih mau mengampuni ketidaktaatannya. Dengan jujur mengakui kesalahan dan tulus memohon pengampunan, pemazmur telah mengambil satu-dua langkah penting untuk bisa mengalami pemulihan dan pembaruan, yakni menerima diri sendiri dan terbuka pada pengampunan Allah, sehingga ia dapat melangkah bersama orang-orang sebangsanya dalam kasih dan anugerah Allah.

Banyak orang gagal membina dan membangun relasi dengan Tuhan dan sesama akibat ketidakjujuran dan ketidaktulusan dalam menerima keterbatasan dan kekurangan diri sendiri. Ketidakberanian ini membuat orang hidup dalam kemunafikan yang sangat tidak menyenangkan, yang sejatinya ingin dihindari dan diatasi. Karena itu, khotbah Agustinus di atas patut kita renungkan. Kita mesti terus belajar jujur dan tulus.

 

 REFLEKSI:

Kejujuran dan ketulusan dalam mengakui dan menerima kekurangan dan kesalahan akan membuat hidup kita menjadi lebih manusiawi.
Mzm. 25:11-20; Pkh. 9:13-18; Mat. 25:31-46

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/wasiat/