Tolong Diam

Tolong diam!

            Fakta dari mayoritas orang Indonesia adalah dirinya sangat suka sekali berbicara. Hal itu mengakibatkan negara ini sangat kurang memiliki dokumen-dokumen tertulis dalam hal tertentu, misalkan sejarah Indonesia. Dalam hubungan manusia dengan Tuhan kita juga terlalu banyak berbicara secara verbal. Kita terlalu sering mengeluh dalam kehidupan kita. Mengeluh melalui perkataan kita baik dalam doa maupun berkeluh kesah kepada orang lain. Bangsa Israel dalam masa perjalanan di padang gurun hampir setiap hari mereka berkeluh kesah, mereka marah kepada Tuhan mengapa membebaskan mereka dari Mesir dan membawa ke dalam kematian di padang gurun. Mereka mengatakan, mereka lebih baik hidup di Mesir tertawan daripada hidup bebas di padang gurun. Itulah manusia merasa segala sesuatu selalu kurang padahal bangsa Israel setiap hari menerima anugerah Tuhan luar biasa setiap hari.

            “Berdoa seringkali kita berbicara pada Allah, mengapa berdoa tidak kita diam berbicara dan mendengar Allah berbicara.” Ucapan Pdt. Phan Bien Ton (GKI Klaten) pada Ibadah Minggu 28 Agustus 2016 di GKI Perniagaan. Sebuah konsep spriritual yang baru yang dapat dilakukan adalah berdiam mendengar suara Tuhan. Diam bukanlah sebuah kepasifan tetapi sebuah usaha untuk mendengar sesuatu yang tidak dapat terdengar dalam keberisikan. Berdiam adalah mengosongkan diri supaya Tuhan mengisi ruang kosong dalam diri kita. Maria saudara Lazarus telah melakukan hal itu dan dipandang baik oleh Tuhan Yesus. Diam di kaki Tuhan, biarkan Dia yang berbicara tentang segala sesuatu yang kita gumulkan. Jangan keraskan hati, kurangi suara keluhan, perbanyak ucapan syukur dan diamlah untuk mendengar suara Tuhan. Selamat diam!